Siapa Enny Arrow? Menguak Misteri Penulis Novel Stensilan

RediksiaJumat, 3 Juli 2026 | 08:56 WIB
Mengenal Enny Arrow, Fenomena Sastra Erotis Era Orde Baru
Mengenal Enny Arrow, Fenomena Sastra Erotis Era Orde Baru

Kalau kamu lahir sebelum tahun 90-an dan besar di Jawa, kemungkinan besar kamu pernah dengar nama Enny Arrow dibisikkan teman sekelas dengan nada setengah malu setengah excited. Enny Arrow adalah nama pena penulis novel erotis paling produktif di zamannya, dan sampai sekarang tak banyak yang tahu siapa dia sebenarnya, termasuk pemerintah Orde Baru waktu itu. Itulah kenapa nama ini tetap jadi bahan obrolan nostalgia, sekaligus jadi bahan perdebatan hukum, empat dekade kemudian.

Buat yang belum familiar: ini bukan cerita tentang satu buku, tapi tentang seluruh fenomena. Novelnya tipis, murah, dijual sembunyi-sembunyi, dan jadi semacam “pelajaran seks pertama” buat satu generasi remaja Indonesia. Yuk kita bongkar satu-satu, dari siapa dia sebenarnya, kenapa karyanya bisa sebesar itu, sampai kenapa sekarang pun namanya masih bisa bikin diskusi kampus dibubarkan polisi.

Siapa Sebenarnya Enny Arrow?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya: tidak ada yang benar-benar tahu pasti. Versi yang paling sering dikutip menyebut nama aslinya Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Hambalang, Bogor, pada 1924, yang memulai kariernya sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang. Dari sana ceritanya berlanjut ke arah yang cukup dramatis: dia sempat belajar stenografi di Yamataka Agency, lalu direkrut jadi propagandis Heiho dan Keibodan, kemudian jadi wartawan Republikein yang meliput pertempuran di sekitar Bekasi saat masa revolusi kemerdekaan.

Nama “Arrow” sendiri ternyata bukan nama keren yang dipikirkan matang-matang. Ia mengambil nama itu dari toko jahit “Arrow” di pinggir Kalimalang, tempat ia pernah bekerja sebagai penjahit. Jadi kalau kamu bayangin nama itu punya makna filosofis dalam-dalam, kenyataannya lebih sederhana dari itu: sekadar nama toko tempat dia cari makan sebelum jadi penulis.

Versi lain bilang perjalanan hidupnya makin berliku setelah 1965. Setelah Peristiwa 30 September 1965 dan situasi politik yang tak menentu, dia berkelana ke Filipina, Hong Kong, lalu mendarat di Seattle, Amerika Serikat, pada April 1967. Di sanalah, menurut sejumlah sumber, dia belajar gaya menulis yang lebih matang. Ia bekerja di bidang penulisan, dan menurut catatan yang beredar, mempelajari gaya penulisan ala Steinbeck. Baru pada 1974 dia kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai copywriter untuk kontrak-kontrak bisnis perusahaan asing, sebelum akhirnya karier menulis novel erotisnya benar-benar meledak di sekitar 1980.

Tapi jangan buru-buru percaya sepenuhnya sama versi ini. Sejumlah orang yang pernah menelusuri jejaknya justru curiga cerita ini terlalu rapi untuk sesuatu yang katanya “misterius”. Ada versi lain yang bilang Enny Arrow sebenarnya nama samaran seorang penulis laki-laki bernama Abdullah Harahap, penulis novel misteri kelahiran 1943 yang juga mempelajari gaya Steinbeck, meski dugaan ini tidak pernah bisa dikonfirmasi karena Abdullah sudah meninggal pada 2015. Ada pula versi yang lebih mengejutkan lagi: bukan cuma satu orang.

Yang bikin ini makin pelik, seorang mantan wartawan yang pernah bekerja di dunia penerbitan tahun 1990 mengaku pernah bertemu langsung dengan orang-orang di balik nama itu. Ia mengklaim Enny Arrow sebenarnya bukan individu, melainkan nama pena kolektif milik sebuah penerbit di Senen, di mana mahasiswa dibayar sekitar Rp15.000-20.000 per cerita untuk menulis dengan gaya yang sama. Kalau versi ini benar, berarti “Enny Arrow” itu semacam merek dagang, bukan satu penulis tunggal. Ini yang bikin genre ini beda dari sekadar “penulis anonim” biasa: identitasnya sengaja dibuat kabur sampai jadi mitos berlapis-lapis, dan sampai sekarang tidak ada satu versi yang bisa dianggap final.

Kenapa Novelnya Bisa Booming Segitu Besar?

Untuk memahami kenapa nama ini begitu melekat, kamu perlu bayangkan Indonesia sebelum ada internet, VCD, bahkan sebelum televisi swasta masif. Jauh sebelum orang mengenal VCD atau situs porno, orang-orang menikmati konten erotis lewat imajinasi dari bacaan, dan salah satu maestronya adalah Enny Arrow. Bacaan model begini disebut “stensilan”, karena dicetak menggunakan kertas stensil, teknik cetak murah yang jadi asal-usul istilah “cerita stensilan”.

Harganya pun sengaja dibuat terjangkau siapa saja. Per buku rata-rata dijual hanya Rp1.000 sampai Rp5.000, dan ini bukan kebetulan: si penulis dikabarkan tidak terlalu memikirkan royalti, dan ingin menunjukkan bahwa bahan bacaan seharusnya bisa dimiliki siapa saja, termasuk kelas menengah ke bawah. Ini poin yang sering luput dari obrolan soal Enny Arrow: bukan cuma soal kontennya yang vulgar, tapi juga soal aksesibilitas bacaan populer di zaman ketika buku “serius” terasa eksklusif dan jauh dari jangkauan orang kebanyakan.

Cara menjualnya pun penuh kode dan kehati-hatian, karena tetap dianggap barang terlarang secara sosial meski belum ada undang-undang khusus soal pornografi saat itu. Penjual biasanya menawarkan sambil berbisik menggunakan istilah yang sudah dipahami bersama, lalu menyelipkan novel itu di tengah komik atau majalah murahan sebelum diserahkan ke pembeli, sebagai antisipasi kalau-kalau razia polisi datang. Bahkan soal siapa penerbitnya pun tak jelas. Dari ratusan judul yang beredar, hanya tertera nama Penerbit Mawar tanpa nomor telepon atau alamat kantor, dan para pengecer buku pun kompak tak mau membuka informasi lebih jauh.

Yang menarik, kenapa rezim yang terkenal represif terhadap karya-karya “kiri” justru membiarkan genre ini beredar bebas selama belasan tahun? Seorang akademisi yang meneliti fenomena ini punya teori: karya Enny Arrow muncul di penghujung 1970-an atau awal 1980-an ketika Orde Baru sedang kuat-kuatnya, dan di saat rezim menindas karya seni bernuansa kiri, mereka justru seolah membiarkan Enny Arrow beredar.

Ada juga yang melihatnya sebagai konsekuensi tak langsung dari represi politik: saat penulis dan buku bertema kiri dilarang dan direpresi, sastra erotika justru berkembang dan akhirnya jadi budaya massa di era tersebut, sebagai semacam saluran ekspresi untuk hal-hal yang dianggap tabu. Logikanya sederhana: rezim sibuk mengawasi ideologi, sementara birahi remaja dianggap tidak mengancam kekuasaan.

Enny Arrow vs Hukum: Kenapa Masih Kontroversial Sampai Sekarang

Ini bagian yang bikin banyak orang kaget: fenomena Enny Arrow bukan cuma cerita nostalgia masa lalu, tapi masih jadi masalah hukum aktif sampai satu dekade lalu. Pada Juli 2017, sebuah diskusi tentang Enny Arrow yang direncanakan digelar di Semarang dilarang polisi karena dianggap mengandung unsur pornografi. Ini bukan pemutaran film porno atau penjualan buku, tapi sekadar diskusi akademis membahas fenomena sastranya.

Alasan polisi cukup blak-blakan soal ini. Kepala kepolisian setempat berdalih apa yang ditampilkan dalam buku karya Enny Arrow mengandung pornografi dan menjual sensualitas perempuan semata, sehingga kegiatan berbau pornografi seperti itu dianggap tidak layak diadakan di wilayah mereka. Panitia sempat kesal karena merasa ini bentuk kesewenang-wenangan, apalagi diskusi serupa biasanya rutin digelar dengan konsep kajian sastra, bukan pemutaran atau distribusi materi eksplisit. Diskusi itu akhirnya tetap terlaksana, tapi harus pindah lokasi ke lingkungan kampus di akhir Agustus tahun yang sama.

Di sinilah letak paradoksnya, dan ini yang bikin topik ini menarik buat dibahas lebih dari sekadar nostalgia receh. Novelnya sendiri beredar bebas selama belasan tahun di era Orde Baru tanpa jerat hukum yang jelas, sementara Undang-Undang Anti Pornografi baru disahkan jauh setelah masa kejayaan Enny Arrow di rentang 1977-1992. Tapi begitu jadi objek diskusi akademis di era yang katanya lebih terbuka, justru dibubarkan aparat. Fenomena budaya yang dulu dianggap “biasa saja” dan bisa ditemukan di lapak pinggir jalan, sekarang malah lebih sensitif untuk sekadar dibicarakan secara terbuka.

Kenapa Namanya Masih Terus Dibahas Sampai Sekarang?

Kalau kamu pikir topik ini cuma relevan buat generasi yang remaja di tahun 80-an, coba lihat siapa saja yang masih membahasnya. Salah satu novelis Indonesia paling dihormati saat ini, yang karyanya masuk nominasi penghargaan sastra internasional, justru pernah menulis esai khusus soal ini. Ia bahkan menulis jurnal berjudul “Membayangkan Enny Arrow sebagai Tonggak Kesusastraan Indonesia”, yang menunjukkan ketidakpeduliannya pada kategorisasi sastra “tinggi” versus “rendah”. Ini bukan cuma nostalgia iseng, tapi ada yang menganggapnya layak dibahas serius sebagai fenomena budaya.

Di sisi lain, ada juga yang menolak keras anggapan itu. Ada tokoh yang secara terang-terangan bilang terminologi “sastra erotika” itu janggal, karena menurutnya itu murni pornografi tanpa nilai sastra apa pun, sekadar cerita fiksi tentang hubungan seksual tanpa muatan lain. Perdebatan soal “ini sastra atau cuma bacaan cabul” inilah yang bikin nama Enny Arrow terus muncul di diskusi-diskusi akademis, bukan cuma di forum nostalgia semacam Kaskus.

Ada satu hal lagi yang jarang disadari orang: buat banyak orang di generasi tertentu, novel ini bukan cuma hiburan, tapi literally sumber pertama pengetahuan soal seks. Sebuah jajak pendapat majalah kesehatan pria pada 2003 pernah menemukan 17,2% respondennya menjawab bahwa novel-novel Enny Arrow adalah sumber pertama pengetahuan mereka soal seks, di era ketika pendidikan seks formal nyaris tidak ada. Ini yang bikin banyak orang generasi itu punya hubungan yang rumit dengan nama Enny Arrow: malu mengakuinya, tapi juga tidak bisa menampik betapa besar pengaruhnya waktu itu.

Soal kelangkaan fisiknya sendiri juga bikin nilainya melonjak di kalangan kolektor. Meski dulu dijual murah, karya-karya Enny Arrow kini justru diburu kolektor yang ingin bernostalgia, bahkan sampai dikoleksi Perpustakaan Leiden di Belanda. Ironis memang: buku yang dulu ditulis dengan sengaja murah dan tanpa royalti besar, sekarang jadi barang buruan yang harganya bisa jauh lebih tinggi dari harga aslinya, justru karena eksemplarnya makin sedikit yang selamat dari sobekan dan sensor mandiri para pembacanya sendiri.

Kapan Fenomena Ini Mulai Meredup?

Popularitas Enny Arrow tidak bertahan selamanya, dan ini masuk akal kalau kita lihat perubahan teknologi yang terjadi setelahnya. Buku-buku karangan Enny Arrow mulai menghilang dari peredaran sekitar tahun 1994, bertepatan dengan mulai masuknya format hiburan dewasa yang lebih visual. Video compact disc, lalu internet, lalu akhirnya ponsel pintar, satu per satu mengambil alih peran yang dulu dipegang bacaan stensilan ini.

Yang menarik, transisi ini juga menandai pergeseran cara orang mengakses konten dewasa: dari yang butuh imajinasi lewat teks, ke yang serba instan lewat gambar dan video. Generasi yang lahir setelah pertengahan 90-an umumnya tidak pernah mengalami euforia berburu novel stensilan di lapak pinggir jalan, karena mereka sudah lompat langsung ke era digital. Itulah kenapa nama Enny Arrow terasa sangat spesifik untuk satu rentang generasi: bukan generasi yang lebih tua yang masih baca sastra formal saja, dan bukan juga generasi digital yang langsung akses internet.

Kesimpulan

Nama Enny Arrow ternyata jauh lebih rumit dari sekadar “penulis buku porno jadul”. Di baliknya ada misteri identitas berlapis yang tidak pernah benar-benar terpecahkan, ada dinamika politik Orde Baru yang aneh karena membiarkan satu genre beredar bebas sambil merepresi genre lain, dan ada perdebatan sastra yang masih hidup sampai sekarang soal batas antara “erotika” dan “pornografi”. Kalau kamu penasaran gara-gara dengar namanya disebut di podcast atau meme, sekarang setidaknya kamu tahu bahwa di balik nama yang terdengar sepele itu, ada satu potongan sejarah budaya populer Indonesia yang cukup kompleks untuk dibahas serius.

FAQ

Apakah novel Enny Arrow masih beredar sekarang?

Novel fisiknya sudah sangat langka karena berhenti dicetak sejak pertengahan 1990-an. Beberapa versi digital atau salinan beredar di internet secara tidak resmi, tapi eksemplar aslinya sekarang lebih banyak diburu kolektor daripada pembaca biasa.

Apakah Enny Arrow itu benar-benar satu orang?

Tidak ada kepastian. Ada versi yang menyebutnya perempuan bernama Enny Sukaesih Probowidagdo, ada yang menduga penulis laki-laki bernama Abdullah Harahap, dan ada versi lain yang bilang itu nama pena kolektif dipakai beberapa penulis berbeda di bawah satu penerbit.

Kenapa diskusi soal Enny Arrow bisa dilarang polisi padahal cuma membahas sejarahnya?

Karena aparat menilai materi yang dibahas, termasuk kutipan atau contoh dari novelnya, tetap mengandung unsur pornografi sesuai penafsiran mereka terhadap Undang-Undang Pornografi, terlepas dari niat akademis di balik diskusi tersebut.