David Szalay resmi dinobatkan sebagai pemenang Booker Prize 2025 lewat novelnya, Flesh, dalam sebuah upacara di Old Billingsgate, London, pada 10 November 2025. Penulis kelahiran Kanada berdarah Hungaria ini mengalahkan lima nama besar lain di daftar pendek, termasuk peraih Booker 2006, Kiran Desai, serta penulis asal Inggris, Andrew Miller.
Kemenangan ini menjadikan Szalay sebagai penulis Hungaria-Inggris pertama yang meraih penghargaan sastra tertua dan paling bergengsi di dunia berbahasa Inggris tersebut.
Bagi yang belum familiar, Booker Prize diberikan setiap tahun kepada karya fiksi panjang terbaik berbahasa Inggris yang diterbitkan di Inggris atau Irlandia. Tahun ini, dewan juri yang diketuai sastrawan pemenang Booker 1993, Roddy Doyle, menyaring 153 buku sebelum akhirnya sepakat memilih Flesh.
Doyle, yang didampingi juri lain seperti aktris sekaligus penerbit Sarah Jessica Parker, novelis Ayọ̀bámi Adébáyọ̀, kritikus Chris Power, dan penulis Kiley Reid, menyebut proses diskusi berlangsung selama enam jam sebelum keputusan bulat diambil.
Siapa David Szalay dan Mengapa Namanya Kini Naik Daun
Szalay bukan wajah baru di dunia sastra Inggris. Ia sebelumnya masuk daftar pendek Booker Prize 2016 lewat All That Man Is, kumpulan kisah tentang sembilan pria dari berbagai latar Eropa yang juga membawanya meraih Gordon Burn Prize dan Plimpton Prize.
Novel debutnya, London and the South-East, bahkan sudah lebih dulu memenangi Betty Trask Award dan Geoffrey Faber Memorial Prize pada 2008.
Lahir di Montreal dari ayah Hungaria dan ibu Kanada, Szalay besar di London dan kini menetap di Wina. Latar belakang lintas negara inilah yang banyak tercermin dalam gaya penulisannya yang dingin, minim ornamen, namun sarat lapisan emosi.
Flesh sendiri merupakan karya fiksi keenam Szalay, menyusul The Innocent, Spring, dan kumpulan cerpen Turbulence yang membuatnya meraih Edge Hill Prize pada 2019.
Cerita di Balik Novel Flesh
Flesh mengikuti perjalanan hidup István, remaja Hungaria berusia 15 tahun yang tinggal bersama ibunya di sebuah kompleks apartemen sederhana. Sebagai anak baru yang pendiam, István kesulitan bergaul dengan teman sebayanya dan mulai mendekatkan diri dengan seorang tetangga perempuan yang usianya jauh lebih tua.
Hubungan yang awalnya sekadar bantuan mengurus rumah tangga itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit, hingga membawa konsekuensi serius bagi masa depan István.
Dari titik itu, novel ini membentangkan perjalanan panjang István, dari Hungaria hingga London, tempat ia berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain sebelum akhirnya menjadi sopir pribadi bagi kalangan superkaya Inggris.
Tanpa membongkar detail penting alur ceritanya, novel ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana satu keputusan di masa muda bisa membentuk seluruh lintasan hidup seseorang, lengkap dengan segala keterasingan dan kontradiksi yang menyertainya.
Ditulis dalam sudut pandang orang ketiga dengan gaya prosa yang sangat hemat kata, Flesh kerap dibandingkan dengan karya-karya eksistensialis semacam Camus. Kritikus Carys Davies bahkan menyebut novel ini mengalir seperti thriller yang perlahan mengumpulkan bobot emosional layaknya tragedi klasik.
Dewan juri Booker Prize sendiri menggambarkan karya ini sebagai “spare, disciplined, urgent, honest and heartbreaking”, sebuah pujian yang jarang diberikan secara bersamaan untuk satu novel.
Kenapa Flesh Berbeda dari Karya Szalay Sebelumnya
Menariknya, daftar pendek Booker Prize 2025 tidak menyertakan satu pun novel debut, hanya diisi penulis-penulis mapan seperti Susan Choi lewat Flashlight dan Katie Kitamura lewat Audition. Di tengah persaingan ketat itu, Flesh dinilai menonjol karena keberaniannya keluar dari pola penulisan Szalay sebelumnya.
Jika All That Man Is banyak berfokus pada gejolak batin tokoh-tokoh pria yang sibuk mempertanyakan maskulinitas dan status sosialnya, Flesh justru menahan diri dari melodrama semacam itu.
Karakter István digambarkan lebih banyak diam dan diamati dari luar, sebuah pendekatan yang oleh sejumlah pengulas dianggap membuat novel ini terasa lebih jujur dan tidak berusaha keras menjelaskan dirinya sendiri.
Bagi pembaca yang menyukai realisme sastra yang tenang namun mencekam, tanpa akhir yang serba tuntas atau katarsis instan, Flesh menjadi salah satu bacaan yang layak diburu tahun ini.
Sebaliknya, pembaca yang mencari plot bertempo cepat penuh kejutan mungkin perlu menyesuaikan ekspektasi, sebab kekuatan utama novel ini justru terletak pada keheningan dan jeda-jeda yang sengaja dibiarkan Szalay terbuka untuk ditafsirkan sendiri oleh pembacanya.
Kemenangan Flesh turut membuka jalan bagi karya-karya Szalay lainnya untuk mendapat perhatian lebih luas, termasuk kemungkinan penerjemahan ke lebih banyak bahasa mengingat karya-karyanya sejauh ini sudah beredar dalam lebih dari 20 bahasa.
Bagi penerbit lokal maupun pembaca yang tertarik pada sastra Eropa kontemporer, momentum ini bisa menjadi alasan kuat untuk mulai melirik penerjemahan Flesh ke Bahasa Indonesia dalam waktu dekat.





