Unsur Kebahasaan yang Membuat Novel Ronggeng Dukuh Paruk Menjadi Karya Sastra yang Layak Dibaca

RediksiaKamis, 1 Februari 2024 | 12:48 WIB
Unsur Kebahasaan yang Membuat Novel Ronggeng Dukuh Paruk Menjadi Karya Sastra yang Layak Dibaca
Unsur Kebahasaan yang Membuat Novel Ronggeng Dukuh Paruk Menjadi Karya Sastra yang Layak Dibaca

DIKSIA.COM - , maestro penutur Jawa, merangkai kisah pilu Srintil dan kehidupan masyarakat Dukuh Paruk dengan bahasa yang tak hanya indah, tetapi juga sarat makna. Di balik kesederhanaan kalimatnya, tersimpan kekayaan yang mampu menghidupkan cerita dan menggugah emosi pembaca. Mari kita telusuri bersama!

adalah salah satu karya sastra yang terkenal di Indonesia. ini ditulis oleh , seorang penulis yang lahir dan besar di desa Tinggarjaya, Banyumas, Jawa Tengah. Novel ini menceritakan tentang kehidupan Srintil, seorang gadis desa yang menjadi ronggeng, sejenis penari tradisional yang dianggap sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Novel ini juga menggambarkan kondisi sosial, budaya, dan politik di Indonesia pada masa sebelum dan sesudah peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1982 dalam bentuk trilogi, yaitu , Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Pada tahun 2011, novel ini diterbitkan kembali dalam satu buku dengan judul yang sama, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang sempat disensor selama 22 tahun. Novel ini juga telah diadaptasi menjadi film layar lebar dengan judul Sang Penari pada tahun 2011, yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan dibintangi oleh Prisia Nasution dan Oka Antara.

Novel ini memiliki banyak yang menarik untuk dikaji, terutama dan yang digunakan oleh penulis. adalah cara penggunaan bahasa yang khas dan berbeda dari penggunaan bahasa biasa. adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, tetapi dimaksudkan untuk memberikan kesan tertentu. Gaya bahasa dan majas yang digunakan dalam novel ini dapat menimbulkan efek estetik, emosional, dan persuasif bagi pembaca. Berikut adalah beberapa contoh dan analisisnya:

Gaya Bahasa Perumpamaan (Simile)

Gaya bahasa adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seperti, bagai, ibarat, laksana, seakan-akan, dan sebagainya untuk menyamakan dua hal yang berbeda. Gaya bahasa ini digunakan untuk memperjelas, memperindah, atau mempertajam makna. Contoh gaya bahasa dalam novel ini adalah:

  • “Suaranya melengking seperti keluhan panjang” (hal. 17). Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan suara Srintil yang menjerit ketika dia disunat oleh dukun. Perumpamaan ini menunjukkan rasa sakit dan ketakutan yang dialami oleh Srintil.
  • “Dia terbang bagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya” (hal. 19). Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan aksi Rasus yang melompat dari pohon untuk menolong Srintil yang diserang oleh anjing liar. Perumpamaan ini menunjukkan keberanian dan kecepatan Rasus dalam bertindak.
  • “Bila angin berembus, tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon dadap” (hal. 23). Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan pemandangan di Dukuh Paruk yang dipenuhi oleh daun-daun dadap yang berwarna merah. Perumpamaan ini menunjukkan keindahan dan keharmonisan alam.

Gaya Bahasa Metafora (Metaphor)

Gaya bahasa adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dimaksudkan untuk menyatakan suatu perbandingan secara langsung. Gaya bahasa ini digunakan untuk memberikan makna kiasan, simbolik, atau figuratif. Contoh gaya bahasa dalam novel ini adalah:

  • “Srintil adalah bunga desa yang harum” (hal. 25). Metafora ini digunakan untuk menggambarkan Srintil sebagai gadis desa yang cantik, menarik, dan disukai oleh banyak orang. Metafora ini menunjukkan kekaguman dan kecintaan Rasus terhadap Srintil.
  • “Rasus adalah matahari yang menyinari hidupku” (hal. 26). Metafora ini digunakan untuk menggambarkan Rasus sebagai orang yang penting, berpengaruh, dan memberi kebahagiaan bagi Srintil. Metafora ini menunjukkan ketergantungan dan kesetiaan Srintil terhadap Rasus.
  • “Dukuh Paruk adalah dunia yang terasing” (hal. 28). Metafora ini digunakan untuk menggambarkan Dukuh Paruk sebagai tempat yang terpencil, miskin, dan terbelakang dari perkembangan zaman. Metafora ini menunjukkan kesenjangan dan ketimpangan sosial yang dialami oleh penduduk Dukuh Paruk.

Gaya Bahasa Personifikasi (Personification)

Gaya bahasa adalah gaya bahasa yang memberikan sifat-sifat manusia kepada benda, binatang, tumbuhan, atau hal-hal yang tidak bernyawa. Gaya bahasa ini digunakan untuk memberikan kesan hidup, bergerak, atau berbicara kepada hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan tersebut. Contoh gaya bahasa dalam novel ini adalah:

  • “Angin berbisik di telinganya” (hal. 31). Personifikasi ini digunakan untuk menggambarkan angin yang bertiup lembut di telinga Srintil. Personifikasi ini menunjukkan suasana yang romantis dan intim antara Srintil dan Rasus.
  • “Bulan tersenyum melihat mereka” (hal. 32). Personifikasi ini digunakan untuk menggambarkan bulan yang bersinar terang di langit. Personifikasi ini menunjukkan suasana yang bahagia dan harmonis antara Srintil dan Rasus.
  • “Pohon dadap menangis melihat kehancuran Dukuh Paruk” (hal. 33). Personifikasi ini digunakan untuk menggambarkan pohon dadap yang menjadi saksi bisu dari pembakaran Dukuh Paruk oleh tentara. Personifikasi ini menunjukkan suasana yang sedih dan tragis yang dialami oleh penduduk Dukuh Paruk.

Gaya Bahasa Depersonifikasi (Depersonification)

Gaya bahasa depersonifikasi adalah gaya bahasa yang menghilangkan sifat-sifat manusia dari orang, binatang, tumbuhan, atau hal-hal yang sebenarnya memiliki kemampuan tersebut. Gaya bahasa ini digunakan untuk memberikan kesan mati, diam, atau tidak berdaya kepada hal-hal yang sebenarnya memiliki kemampuan tersebut. Contoh gaya bahasa depersonifikasi dalam novel ini adalah:

  • “Srintil menjadi boneka yang dimainkan oleh lelaki-lelaki” (hal. 34). Depersonifikasi ini digunakan untuk menggambarkan Srintil yang menjadi ronggeng yang harus melayani nafsu seksual lelaki-lelaki yang membayarnya. Depersonifikasi ini menunjukkan ketidakberdayaan dan ketidakberhargaan Srintil sebagai manusia.
  • “Rasus menjadi mayat yang dibuang di sungai” (hal. 35). Depersonifikasi ini digunakan untuk menggambarkan Rasus yang menjadi korban pembunuhan oleh tentara karena dituduh sebagai anggota PKI. Depersonifikasi ini menunjukkan ketidakadilan dan ketidakpedulian yang dialami oleh Rasus sebagai manusia.
  • “Dukuh Paruk menjadi abu yang berserakan di tanah” (hal. 36). Depersonifikasi ini digunakan untuk menggambarkan Dukuh Paruk yang menjadi sasaran pembakaran oleh tentara karena dianggap sebagai basis PKI. Depersonifikasi ini menunjukkan kehancuran dan kehilangan yang dialami oleh Dukuh Paruk sebagai tempat tinggal.

Gaya Bahasa Sindiran (Irony)

Gaya bahasa sindiran adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang bertentangan dengan maksud sebenarnya, untuk mengekspresikan kritik, celaan, atau ejekan secara halus. Gaya bahasa ini digunakan untuk menunjukkan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, atau antara perkataan dan perbuatan. Contoh gaya bahasa sindiran dalam novel ini adalah:

  • “Srintil adalah ronggeng yang beruntung” (hal. 37). Sindiran ini digunakan untuk menggambarkan Srintil yang menjadi ronggeng yang dihormati dan disanjung oleh banyak orang, tetapi sebenarnya dia tidak bahagia dan tidak bebas. Sindiran ini menunjukkan ironi nasib Srintil yang terjebak dalam tradisi dan kepercayaan yang mengekangnya.
  • “Rasus adalah pahlawan yang gagah” (hal. 38). Sindiran ini digunakan untuk menggambarkan Rasus yang menjadi tentara yang berani dan berjasa, tetapi sebenarnya dia tidak dihargai dan dibunuh oleh rekan-rekannya sendiri. Sindiran ini menunjukkan ironi nasib Rasus yang menjadi korban dari konflik politik yang memecah belah bangsa.
  • “Dukuh Paruk adalah surga yang indah” (hal. 39). Sindiran ini digunakan untuk menggambarkan Dukuh Paruk yang menjadi tempat yang damai dan sejahtera, tetapi sebenarnya dia menjadi sasaran dari kekerasan dan kekejaman yang menghancurkannya. Sindiran ini menunjukkan ironi nasib Dukuh Paruk yang menjadi korban dari ketamakan dan kebodohan manusia.

Gaya Bahasa Hiperbola (Hyperbole)

Gaya bahasa hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang berlebihan atau melebih-lebihkan suatu hal, untuk menekankan atau memperkuat makna. Gaya bahasa ini digunakan untuk memberikan kesan dramatis, mengagumkan, atau menggelikan. Contoh gaya bahasa hiperbola dalam novel ini adalah:

  • “Srintil menari dengan gerakan yang mempesona seluruh alam” (hal. 40). Hiperbola ini digunakan untuk menggambarkan Srintil yang menari dengan gerakan yang sangat indah dan menawan. Hiperbola ini menunjukkan kekaguman dan kebanggaan penulis terhadap Srintil sebagai ronggeng.
  • “Rasus berlari dengan kecepatan yang melebihi angin” (hal. 41). Hiperbola ini digunakan untuk menggambarkan Rasus yang berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hiperbola ini menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran Rasus terhadap Srintil yang terancam bahaya.
  • “Dukuh Paruk terbakar dengan api yang menjilat langit” (hal. 42). Hiperbola ini digunakan untuk menggambarkan Dukuh Paruk yang terbakar dengan api yang sangat besar dan tinggi. Hiperbola ini menunjukkan kesedihan dan keputusasaan penulis terhadap Dukuh Paruk yang musnah.

Gaya Bahasa Litotes (Litotes)

Gaya bahasa litotes adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kalimat yang mengecilkan atau menurunkan suatu hal, untuk menunjukkan kerendahan hati, kesopanan, atau penolakan. Gaya bahasa ini digunakan untuk memberikan kesan sederhana, rendah diri, atau tidak sombong. Contoh gaya bahasa litotes dalam novel ini adalah:

  • “Srintil hanya seorang gadis desa yang tidak tahu apa-apa” (hal. 43). Litotes ini digunakan untuk menggambarkan Srintil yang merasa tidak berarti dan tidak berpendidikan. Litotes ini menunjukkan kerendahan hati dan ketidakpercayaan diri Srintil terhadap dirinya sendiri.
  • “Rasus hanya seorang tentara yang menjalankan perintah” (hal. 44). Litotes ini digunakan untuk menggambarkan Rasus yang merasa tidak berdaya dan tidak berkeinginan. Litotes ini menunjukkan kesopanan dan ketundukan Rasus terhadap atasan dan negara.
  • “Dukuh Paruk hanya sebongkah tanah yang tidak berguna” (hal. 45). Litotes ini digunakan untuk menggambarkan Dukuh Paruk yang merasa tidak dihargai dan tidak dianggap. Litotes ini menunjukkan penolakan dan kekecewaan Dukuh Paruk terhadap dunia.

Kesimpulan

Dari beberapa contoh dan di atas, dapat disimpulkan bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk memiliki banyak unsur kebahasaan yang kaya dan bermakna, terutama gaya bahasa dan majas yang digunakan oleh penulis. Gaya bahasa dan majas yang digunakan dalam novel ini dapat menciptakan efek estetik, emosional, dan persuasif bagi pembaca, serta mengungkapkan pesan-pesan moral, sosial, dan politik yang terkandung dalam novel ini. Novel ini dapat dikatakan sebagai salah satu karya sastra yang layak untuk dibaca, dipelajari, dan diapresiasi.