Ringkasan Novel Bumi Manusia: Kisah Cinta dan Perjuangan Minke

RediksiaMinggu, 4 Februari 2024 | 11:36 WIB
Ringkasan Novel Bumi Manusia, Kisah Cinta dan Perjuangan Minke
Ringkasan Novel Bumi Manusia, Kisah Cinta dan Perjuangan Minke

DIKSIA.COM - adalah salah satu karya sastra terkenal karya , yang menggambarkan kehidupan Indonesia pada masa penjajahan Belanda. ini merupakan bagian pertama dari Tetralogi Pulau Buru, yang ditulis oleh Pram ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1980 oleh Hasta Mitra, dan sempat dilarang beredar oleh rezim Orde Baru. Namun, setelah reformasi 1998, novel ini kembali dicetak ulang dan mendapat apresiasi dari banyak pembaca.

Novel bercerita tentang Minke, seorang siswa HBS (sekolah menengah atas berbahasa Belanda) yang merupakan keturunan priyayi. Minke adalah satu-satunya orang Indonesia di antara siswa Belanda, dan ia mendapat kesempatan bersekolah di sana karena ia memiliki kecerdasan dan bakat menulis. Minke juga jatuh dengan Annelies, putri dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh, yang merupakan keluarga Indo (campuran Belanda dan Indonesia).

Hubungan Minke dan Annelies menghadapi banyak rintangan, baik dari keluarga, masyarakat, maupun hukum kolonial. Minke juga harus berjuang melawan ketidakadilan sosial dan rasial yang dialami oleh bangsanya, serta mencari identitas dirinya sebagai seorang pribumi.

Latar Belakang Novel Bumi Manusia

Novel Bumi Manusia mengambil latar belakang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, di mana Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda. Pada masa itu, terjadi perbedaan kelas yang tajam antara orang Belanda, Indo, dan pribumi. Orang Belanda memiliki kedudukan tertinggi, dan mereka memperlakukan orang Indo dan pribumi sebagai warga kelas dua.

Orang Indo adalah keturunan campuran Belanda dan Indonesia, yang memiliki hak dan kewajiban lebih banyak daripada pribumi, tetapi masih dianggap rendah oleh orang Belanda. Orang pribumi adalah orang asli Indonesia, yang terbagi menjadi beberapa golongan, seperti priyayi, abangan, santri, dan lain-lain. Orang pribumi memiliki hak dan kewajiban paling sedikit, dan mereka sering dieksploitasi oleh orang Belanda.