Review Novel Rumah Kaca: Kisah Pengawasan Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional

RediksiaSelasa, 6 Februari 2024 | 09:23 WIB
Review Novel Rumah Kaca, Kisah Pengawasan Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional
Review Novel Rumah Kaca, Kisah Pengawasan Kolonial Terhadap Pergerakan Nasional

DIKSIA.COM - Pernahkah kamu membayangkan hidup di balik tembok kaca yang indah, namun penuh dengan rahasia dan intrik? ” karya membawa kita menyelami dunia penuh gejolak di era kolonialisme Belanda, di mana cinta, politik, dan pengkhianatan terjalin erat.

adalah novel yang ditulis oleh , salah satu sastrawan Indonesia yang terkenal di dunia. Novel ini merupakan bagian terakhir dari Tetralogi Buru, yang juga meliputi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1988, tetapi sempat dilarang peredarannya oleh rezim Orde Baru karena dianggap mengandung ajaran Marxis-Leninis.

Novel ini bercerita tentang kehidupan politik pada masa Hindia-Belanda, khususnya tentang pengawasan yang dilakukan oleh pihak terhadap aktivitas Minke, tokoh utama dari tiga novel sebelumnya. Minke adalah seorang aktivis yang berusaha membangun kesadaran dan solidaritas bangsa melalui media cetak dan organisasi.

Namun, upaya Minke ini dianggap sebagai ancaman oleh pihak , yang kemudian menugaskan seorang polisi berdarah Minahasa bernama Jacques Pangemanann untuk memata-matai dan menghentikan Minke.

Novel ini menawarkan perspektif yang berbeda dari novel-novel sebelumnya, karena tidak lagi mengambil sudut pandang Minke, melainkan Jacques Pangemanann. Dengan demikian, pembaca dapat melihat bagaimana cara kerja dan pemikiran pihak kolonial dalam menghadapi .

Novel ini juga mengungkap yang jarang diketahui, yaitu tentang pembunuhan seorang wanita tuna susila kelas atas bernama Fientje de Fenicks atau Rientje Roo, yang diduga berkaitan dengan Minke.

Novel ini merupakan karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sejarah, budaya, dan politik. Novel ini juga menggugah rasa nasionalisme dan kritisisme pembaca terhadap penjajahan dan ketidakadilan. Novel ini juga ditulis dengan gaya bahasa yang indah, mengalir, dan penuh dengan metafora dan simbolisme.