Resensi Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

RediksiaMinggu, 4 Februari 2024 | 20:28 WIB
Resensi Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
Resensi Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

DIKSIA.COM - Novel adalah salah satu karya yang paling populer dan fenomenal. Novel ini ditulis oleh , seorang penulis asal Belitong yang terinspirasi oleh kisah nyata masa kecilnya bersama teman-temannya di sebuah sekolah miskin di desa Gantung. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2005 oleh Bentang Pustaka dan telah mendapatkan berbagai penghargaan, adaptasi, dan pujian dari dalam dan luar negeri.

Dalam artikel ini, kita akan membahas Laskar Pelangi, termasuk sinopsis, tokoh, tema, kelebihan, kekurangan, dan pesan moral yang bisa kita ambil dari novel ini.

Sinopsis Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi menceritakan tentang sepuluh anak yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantung, sebuah sekolah yang hampir ditutup karena hanya memiliki sembilan murid. Mereka adalah Ikal, Lintang, Mahar, A Kiong, Kucai, Borek, Syahdan, Trapani, Harun, dan Sahara. Mereka menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi, karena mereka suka melihat pelangi di langit Belitong. Mereka mengalami berbagai petualangan, kesulitan, dan keajaiban bersama guru-guru mereka, terutama Bu Mus, seorang guru muda yang penuh semangat dan dedikasi.

Mereka juga berhadapan dengan sekolah rival mereka, PN, yang kaya dan sombong. Mereka menunjukkan bahwa meskipun mereka miskin dan bersekolah di kelas yang bobrok, mereka memiliki bakat, kecerdasan, dan cita-cita yang luar biasa. Mereka membuktikan bahwa adalah jalan untuk meraih dan mengubah nasib.

Tokoh-Tokoh dalam Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi memiliki banyak tokoh yang berperan penting dalam cerita. Berikut adalah beberapa tokoh utama dan sifat-sifat mereka:

  • Ikal: tokoh utama dan narator novel ini. Ia adalah seorang anak yang cerdas, imajinatif, dan bercita-cita menjadi penulis. Ia juga jatuh pada A Ling, seorang gadis cantik dari sekolah PN.
  • Lintang: teman sekelas Ikal yang paling jenius. Ia sangat pandai dalam matematika, fisika, dan ilmu pengetahuan lainnya. Ia berasal dari keluarga nelayan yang tinggal jauh dari sekolah. Ia harus bersepeda 80 km setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Ia bercita-cita menjadi profesor dan mengubah dunia.
  • Mahar: teman sekelas Ikal yang memiliki bakat seni dan okultisme. Ia suka membuat boneka, lukisan, dan patung dari barang-barang bekas. Ia juga mahir dalam ilmu gaib, seperti membaca pikiran, meramal, dan mengutuk. Ia bercita-cita menjadi seniman dan ilmuwan.
  • A Kiong: teman sekelas Ikal yang berasal dari etnis Tionghoa. Ia adalah seorang anak yang lucu, ceria, dan suka bernyanyi. Ia juga pandai bermain musik, terutama biola. Ia bercita-cita menjadi musisi dan penyanyi terkenal.
  • Kucai: teman sekelas Ikal yang menjadi ketua kelas. Ia adalah seorang anak yang ambisius, berwibawa, dan suka berpidato. Ia juga suka berorganisasi dan berpolitik. Ia bercita-cita menjadi pemimpin dan pejuang rakyat.
  • Borek: teman sekelas Ikal yang menjadi badut kelas. Ia adalah seorang anak yang bodoh, nakal, dan suka membuat onar. Ia juga suka berkelahi dan bermain bola. Ia bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional.
  • Syahdan: teman sekelas Ikal yang menjadi sahabat karibnya. Ia adalah seorang anak yang setia, baik hati, dan suka membantu. Ia juga suka membaca dan menulis. Ia bercita-cita menjadi guru dan sastrawan.
  • Trapani: teman sekelas Ikal yang menjadi penjaga kelas. Ia adalah seorang anak yang pendiam, jujur, dan disiplin. Ia juga suka berkebun dan merawat tanaman. Ia bercita-cita menjadi petani dan pengusaha.
  • Harun: teman sekelas Ikal yang menjadi anggota terakhir Laskar Pelangi. Ia adalah seorang anak yang lemah, pemalu, dan tidak bisa membaca. Ia juga suka bermain gasing dan layang-layang. Ia bercita-cita menjadi tukang kayu dan pembuat mainan.
  • Sahara: satu-satunya anak perempuan di kelas. Ia adalah seorang anak yang cantik, berani, dan mandiri. Ia juga suka berpetualang dan melawan ketidakadilan. Ia bercita-cita menjadi dokter dan aktivis.

Tema-Tema dalam Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi mengangkat beberapa tema yang relevan dan menarik, di antaranya:

  • Pendidikan: novel ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anak, terutama yang berasal dari daerah terpencil dan miskin. Pendidikan dapat memberikan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan bagi anak-anak untuk meraih mimpi dan mengubah nasib mereka. Novel ini juga mengkritik sistem pendidikan yang tidak adil dan diskriminatif, yang membedakan antara sekolah miskin dan kaya, serta antara anak-anak berbakat dan tidak.
  • : novel ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan persahabatan antara anggota Laskar Pelangi. Mereka saling mendukung, membantu, dan melindungi satu sama lain. Mereka juga saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain. Mereka bersama-sama menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, dan kebahagiaan dalam hidup mereka.
  • Cinta: novel ini menunjukkan betapa indahnya cinta yang tumbuh di antara anak-anak. Cinta yang murni, polos, dan tulus. Cinta yang tidak memandang latar belakang, status, atau perbedaan. Cinta yang mampu menginspirasi, memberi semangat, dan memberi harapan. Cinta yang mampu bertahan, berkorban, dan berjuang.
  • Mimpi: novel ini menunjukkan betapa beraninya anak-anak Laskar Pelangi bermimpi. Mereka memiliki mimpi-mimpi yang besar, mulia, dan luar biasa. Mereka tidak takut untuk bermimpi, meskipun mereka tahu bahwa mimpi mereka sulit untuk diwujudkan. Mereka tidak menyerah untuk bermimpi, meskipun mereka menghadapi banyak rintangan dan hambatan. Mereka berusaha untuk bermimpi, meskipun mereka hidup dalam keterbatasan dan kemiskinan.

Unsur Intrinsik Novel Laskar Pelangi

Unsur intrinsik novel Laskar Pelangi adalah unsur-unsur yang membentuk struktur dan makna novel tersebut. Berikut adalah beberapa unsur intrinsik novel Laskar Pelangi:

  • Tema: novel ini mengangkat tema tentang pentingnya pendidikan, persahabatan, cinta, dan mimpi bagi anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan. Novel ini juga mengkritik sistem pendidikan yang tidak adil dan diskriminatif, serta menggambarkan realitas sosial dan budaya di Belitong.
  • Tokoh dan penokohan: novel ini memiliki banyak tokoh yang berperan penting dalam cerita, terutama sepuluh anak yang menjadi anggota Laskar Pelangi. Mereka adalah Ikal, Lintang, Mahar, A Kiong, Kucai, Borek, Syahdan, Trapani, Harun, dan Sahara. Mereka memiliki kepribadian, latar belakang, dan perkembangan yang berbeda-beda, tetapi saling mendukung, membantu, dan melindungi satu sama lain. Mereka juga memiliki bakat, kecerdasan, dan cita-cita yang luar biasa, meskipun mereka bersekolah di kelas yang bobrok. Penulis menggambarkan tokoh-tokoh ini dengan cara tidak langsung, yaitu melalui dialog, perbuatan, atau reaksi mereka.
  • Alur: novel ini menggunakan alur maju, yaitu peristiwa disusun sesuai dengan urutan waktu yang sebenarnya. Novel ini terdiri dari 39 bab yang menceritakan berbagai peristiwa yang dialami oleh Laskar Pelangi selama mereka bersekolah di SD Muhammadiyah Gantung, mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP. Novel ini juga memiliki beberapa alur bawahan, yaitu cerita-cerita sampingan yang berkaitan dengan tokoh-tokoh tertentu, seperti kisah cinta Ikal dan A Ling, kisah keluarga Lintang, kisah seni dan mistik Mahar, dan lain-lain.
  • Latar: novel ini memiliki latar tempat, waktu, dan suasana yang beragam. Latar tempat novel ini adalah pulau Belitong, terutama desa Gantung dan sekitarnya. Latar waktu novel ini adalah sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, saat Belitong masih menjadi daerah yang miskin, terpencil, dan tertinggal. Latar suasana novel ini adalah campuran antara sedih, lucu, haru, dan menggugah. Penulis mampu menciptakan suasana yang sesuai dengan peristiwa yang terjadi, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan.
  • Gaya bahasa: novel ini menggunakan gaya bahasa yang sederhana, lugas, dan jenaka. Penulis menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Inggris, bahasa Belitong, dan bahasa daerah lainnya, untuk menunjukkan keberagaman dan kekhasan budaya di Belitong. Penulis juga menggunakan berbagai majas, metafora, dan perbandingan yang membuat novel ini menjadi lebih hidup dan kaya. Penulis juga menggunakan bahasa yang kasar, seperti kata-kata kotor, umpatan, dan ejekan, untuk menunjukkan realitas dan kejujuran yang ada di kalangan anak-anak Belitong.

Unsur Ekstrinsik Novel Laskar Pelangi

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar novel yang mempengaruhi pembentukan dan pemaknaan novel tersebut. Unsur-unsur ekstrinsik novel adalah:

  • Latar belakang pengarang: kondisi pribadi, sosial, budaya, dan sejarah yang dialami oleh pengarang novel dan memotivasi pengarang untuk menulis novel tersebut. Latar belakang pengarang novel Laskar Pelangi adalah Andrea Hirata, seorang penulis asal Belitong yang terinspirasi oleh kisah nyata masa kecilnya bersama teman-temannya di sebuah sekolah miskin di desa Gantung. Pengarang menulis novel ini untuk mengenang masa lalunya dan mengapresiasi guru-guru dan teman-temannya yang telah memberinya pendidikan dan mimpi.
  • Latar belakang masyarakat: kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang ada di masyarakat tempat novel tersebut ditulis atau berlatar. Latar belakang masyarakat novel Laskar Pelangi adalah masyarakat Belitong pada era 1970-an hingga 1980-an, saat Belitong masih menjadi daerah yang miskin, terpencil, dan tertinggal. Masyarakat Belitong hidup dari pertambangan timah, nelayan, dan petani. Masyarakat Belitong juga memiliki kekayaan budaya, seperti bahasa, adat, seni, dan agama yang beragam. Masyarakat Belitong juga menghadapi berbagai masalah, seperti kemiskinan, diskriminasi, kolonialisme, dan korupsi.
  • Latar belakang sastra: kondisi sastra yang ada di Indonesia atau dunia saat novel tersebut ditulis atau diterbitkan. Latar belakang sastra novel Laskar Pelangi adalah sastra Indonesia pada awal abad ke-21, saat sastra Indonesia mengalami perkembangan dan perubahan yang signifikan. Sastra Indonesia mulai bervariasi dalam genre, tema, gaya, dan media. Sastra Indonesia juga mulai mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari dunia internasional. Sastra Indonesia juga mulai menghadapi tantangan dan kritik dari berbagai pihak.

Kelebihan Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menjadi novel yang layak dibaca dan diapresiasi. Berikut adalah beberapa kelebihan novel ini:

  • Gaya penulisan yang menarik, mengalir, dan mudah dimengerti. Penulis menggunakan bahasa yang sederhana, lugas, dan jenaka. Penulis juga menggunakan berbagai majas, metafora, dan perbandingan yang membuat novel ini menjadi lebih hidup dan kaya.
  • Cerita yang inspiratif, menyentuh, dan menghibur. Penulis mampu menggambarkan berbagai peristiwa, suasana, dan emosi yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam novel ini dengan detail dan realistis. Penulis juga mampu menciptakan berbagai konflik, humor, dan kejutan yang membuat novel ini menjadi lebih menarik dan bervariasi.
  • Karakterisasi yang kuat, mendalam, dan beragam. Penulis mampu menciptakan tokoh-tokoh yang memiliki kepribadian, latar belakang, dan perkembangan yang berbeda-beda. Penulis juga mampu membuat pembaca simpati, empati, dan terlibat dengan tokoh-tokoh dalam novel ini.
  • Pesan moral yang positif, universal, dan aktual. Penulis mampu menyampaikan berbagai nilai-nilai yang penting dan bermanfaat bagi pembaca, seperti pentingnya pendidikan, persahabatan, cinta, mimpi, kejujuran, keberanian, kerja keras, dan lain-lain. Penulis juga mampu mengangkat berbagai isu sosial, budaya, dan sejarah yang ada di Indonesia, seperti kemiskinan, diskriminasi, kolonialisme, pluralisme, dan lain-lain.

Kekurangan Novel Laskar Pelangi

Meskipun novel Laskar Pelangi memiliki banyak kelebihan, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan yang bisa menjadi bahan kritik dan perbaikan. Berikut adalah beberapa kekurangan novel ini:

  • Plot yang terlalu panjang, lambat, dan berulang. Novel ini memiliki 534 halaman yang terdiri dari 39 bab. Beberapa bab terasa terlalu panjang dan membosankan, karena mengulang-ulang peristiwa atau informasi yang sudah diketahui sebelumnya. Beberapa bab juga terasa terlalu lambat dan tidak relevan, karena tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap alur cerita utama.
  • Tokoh-tokoh yang terlalu idealis, stereotip, dan tidak realistis. Novel ini memiliki tokoh-tokoh yang terlalu sempurna, baik, dan berbakat. Mereka hampir tidak memiliki kelemahan, kesalahan, atau konflik batin. Mereka juga terlalu mudah mencapai cita-cita mereka, tanpa menghadapi banyak kendala atau kegagalan. Mereka juga terlalu mudah diterima dan dihormati oleh orang-orang di sekitar mereka, tanpa mengalami banyak penolakan atau diskriminasi. Mereka juga terlalu sesuai dengan stereotip yang ada, seperti anak Tionghoa yang pandai musik, anak nelayan yang jenius matematika, anak seniman yang mistis, dan lain-lain.
  • Bahasa yang terlalu sederhana, kasar, dan tidak konsisten. Novel ini menggunakan bahasa yang terlalu sederhana, sehingga kurang menantang dan menggugah pembaca. Novel ini juga menggunakan bahasa yang terlalu kasar, seperti kata-kata kotor, umpatan, dan ejekan, yang kurang sopan dan mengganggu pembaca. Novel ini juga menggunakan bahasa yang tidak konsisten, seperti mencampur bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Belitong, dan bahasa daerah lainnya, yang kurang rapi dan membingungkan pembaca.

Pesan Moral dari Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi adalah novel yang memiliki banyak pesan moral yang bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan kita. Berikut adalah beberapa pesan moral dari novel ini:

  • Jangan pernah menyerah untuk belajar dan bermimpi. Novel ini mengajarkan kita bahwa pendidikan dan mimpi adalah hal yang sangat penting dan berharga dalam hidup. Dengan pendidikan dan mimpi, kita bisa mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang lebih baik. Dengan pendidikan dan mimpi, kita bisa mengubah nasib kita menjadi lebih baik. Dengan pendidikan dan mimpi, kita bisa memberikan kontribusi yang positif bagi diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan negara kita.
  • Hargai dan rawat persahabatan dan cinta. Novel ini mengajarkan kita bahwa persahabatan dan cinta adalah hal yang sangat indah dan berharga dalam hidup. Dengan persahabatan dan cinta, kita bisa mendapatkan dukungan, bantuan, dan perlindungan yang lebih baik. Dengan persahabatan dan cinta, kita bisa menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, dan kebahagiaan yang lebih baik. Dengan persahabatan dan cinta, kita bisa merasakan kehangatan, kebahagiaan, dan harapan yang lebih baik.
  • Jadilah diri sendiri dan bangga dengan identitas dan asal-usul kita. Novel ini mengajarkan kita bahwa kita tidak perlu malu atau minder dengan diri kita sendiri. Kita tidak perlu meniru atau mengikuti orang lain yang kita anggap lebih baik atau lebih sukses dari kita. Kita tidak perlu merasa rendah atau terpinggirkan oleh orang lain yang kita anggap lebih kaya atau lebih berkuasa dari kita. Kita harus percaya dan bangga dengan diri kita sendiri, dengan kepribadian, bakat, dan cita-cita kita sendiri. Kita harus percaya dan bangga dengan identitas dan asal-usul kita sendiri, dengan budaya, sejarah, dan tradisi kita sendiri.

Kesimpulan

Novel Laskar Pelangi adalah novel yang layak untuk dibaca dan diapresiasi oleh semua kalangan pembaca. Novel ini memiliki banyak kelebihan, seperti gaya penulisan yang menarik, cerita yang inspiratif, karakterisasi yang kuat, dan pesan moral yang positif. Novel ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti plot yang terlalu panjang, tokoh-tokoh yang terlalu idealis, dan bahasa yang terlalu sederhana. Namun, kekurangan-kekurangan ini tidak mengurangi nilai dan pesona novel ini. Novel ini tetap menjadi novel yang menghibur, menyentuh, dan menginspirasi kita semua.