Resensi Novel “Anak Semua Bangsa” Karya Pramoedya Ananta Toer

RediksiaSenin, 5 Februari 2024 | 18:49 WIB
Resensi Novel Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer
Resensi Novel Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer

DIKSIA.COM - Bagi penikmat sejarah dan sastra, novel “” karya adalah santapan wajib. Novel ini, bagian kedua dari tetralogi Buru yang legendaris, mengajak kita menyelami realitas getir era kolonialisme Belanda melalui kacamata , seorang pribumi cerdas yang penuh idealisme.

Novel Anak Semua Bangsa adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang merupakan bagian kedua dari tetralogi Pulau Buru. Novel ini menceritakan tentang kehidupan Minke, seorang pemuda pribumi yang berbakat dan berani, yang berusaha memperjuangkan hak-hak dan martabat bangsanya yang terjajah oleh Belanda. Dalam novel ini, kita akan menyaksikan bagaimana Minke mengalami berbagai konflik, tantangan, dan pergolakan batin yang menguji idealismenya.

Sinopsis Novel Anak Semua Bangsa

Novel ini dimulai dengan kematian Annelies, istri Minke yang berdarah campuran Belanda-Jawa, yang meninggal karena sakit parah saat berada di Belanda. Minke yang sedang berada di Jawa merasa sangat sedih dan kehilangan. Ia mendapat kabar dari Panji Darman, temannya yang menemani Annelies, bahwa jenazah Annelies tidak diakui oleh keluarga Belanda-nya dan dimakamkan secara sembunyi-sembunyi.

Minke yang merasa tidak terima dengan perlakuan itu, berusaha untuk membawa pulang jenazah Annelies ke Jawa. Namun, ia menghadapi banyak hambatan dan rintangan dari pihak Belanda yang tidak menghormati hak-haknya sebagai suami Annelies. Minke juga harus berhadapan dengan Robert Suurhof, seorang pengacara Belanda yang licik dan korup, yang berusaha merebut harta warisan Annelies dari Minke.

Sementara itu, Minke juga terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap . Ia bergabung dengan organisasi Sarekat Dagang Islam yang dipimpin oleh Haji Misbach, seorang ulama yang radikal dan berani. Ia juga berteman dengan Tirto Adhi Soerjo, seorang wartawan dan pemimpin redaksi surat kabar Medan Prijaji, yang menjadi inspirasinya dalam menulis. Minke juga mengenal Jean Marais, seorang pelukis Prancis yang simpatik terhadap nasib rakyat Jawa, dan Nyai Ontosoroh, ibu mertuanya yang cerdas dan mandiri.