Banyak orang mengenal Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tapi Jane Austen sendiri, penulis yang menciptakan mereka, justru tidak pernah mencicipi ketenaran itu selama hidupnya. Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, dan Emma diterbitkan tanpa nama Austen tercantum, dan hanya membawa kesuksesan yang biasa saja saat ia masih hidup.
Ironis memang. Novel yang kini dianggap salah satu karya sastra terpenting dalam bahasa Inggris itu justru lahir dari seorang perempuan yang publiknya sendiri tidak tahu wajahnya sebagai penulis.
Siapa Sebenarnya Jane Austen
Jane Austen lahir pada 16 Desember 1775 dan meninggal pada 18 Juli 1817. Ia lahir di Steventon, Hampshire, Inggris, sebagai bagian dari keluarga kelas menengah dengan lima saudara laki-laki dan seorang kakak perempuan bernama Cassandra yang sangat dekat dengannya. Kedekatan dengan Cassandra ini bukan detail kecil. Banyak catatan tentang kehidupan Austen justru berasal dari surat-surat yang ia tulis untuk kakaknya itu.
Austen tidak langsung menulis novel besar begitu saja. Ia mengawali karirnya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama yang awalnya hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Semacam latihan diam-diam sebelum akhirnya berani melangkah ke ranah yang lebih serius.
Bagaimana Pride and Prejudice Ditulis
Menariknya, novel yang kita kenal sekarang bukan versi pertama yang Austen tulis. Ditulis saat usianya baru 20 sampai 21 tahun, karya ini sebenarnya adalah novel ketiga yang ia tulis, meski menjadi novel kedua yang terbit tahun 1813. Judul aslinya pun berbeda dari yang kita kenal hari ini.
Awalnya novel ini ditulis dengan judul First Impressions, disusun antara tahun 1796 dan 1797. Ayah Austen bahkan sempat mengirim surat kepada penerbit Thomas Cadell pada 1797 untuk menawarkan naskah putrinya. Sayangnya tawaran itu ditolak begitu saja tanpa dibaca lebih jauh.
Butuh waktu belasan tahun sampai naskah itu akhirnya menemukan jalannya ke publik. Pride and Prejudice akhirnya terbit pada 28 Januari 1813. Austen sendiri tidak sepenuhnya puas dengan hasil akhirnya.
Dalam sepucuk surat kepada Cassandra pada awal Februari 1813, ia menyebut novel barunya terlalu ringan dan terlalu berkilau, seolah kekurangan bobot yang lebih serius (terjemahan dari ungkapan aslinya dalam bahasa Inggris).
Kritik dari penulisnya sendiri ini menarik untuk direnungkan. Dua abad kemudian, justru kualitas ringan dan tajam itulah yang membuat banyak orang jatuh cinta pada gaya Austen.
Kenapa Novel Ini Terus Dibaca Sampai Sekarang
Ceritanya berpusat pada Elizabeth Bennet, tokoh utama yang belajar tentang akibat dari penilaian yang terburu-buru dan akhirnya memahami perbedaan antara kebaikan yang tampak di permukaan dengan kebaikan yang sesungguhnya. Latar belakang masalahnya sendiri sangat khas zamannya.
Keluarga Bennet dari perkebunan Longbourn punya lima anak perempuan, tapi warisan properti mereka hanya bisa jatuh ke ahli waris laki-laki. Sang istri pun tidak punya warisan sendiri, sehingga keluarga ini akan jatuh miskin begitu sang ayah meninggal. Karena itulah pernikahan bukan sekadar urusan cinta, melainkan strategi bertahan hidup bagi kelima anak perempuan tersebut.
Konteks sosial semacam ini yang membuat pembaca modern kadang perlu sedikit usaha ekstra memahami motivasi tokoh-tokohnya. Bukan karena mereka materialistis, tapi karena struktur hukum warisan pada masa itu memang membatasi pilihan hidup perempuan sedemikian rupa.
Mengapa Austen Menulis Tanpa Nama Sendiri
Pertanyaan ini sering muncul dari pembaca yang baru mengenal sejarah sastra Inggris abad ke-19. Jawabannya berkaitan erat dengan norma sosial pada masanya. Perempuan yang menulis untuk dipublikasikan secara terbuka sering dipandang kurang pantas, apalagi jika temanya menyentuh soal roman dan pernikahan.
Setelah Austen meninggal, barulah kakaknya Henry mengungkapkan bahwa saudarinya adalah penulis di balik novel-novel terkenal itu. Publik pun baru mengenal wajah asli di balik nama yang selama ini tersembunyi, sesuatu yang datang terlambat untuk Austen sendiri menikmatinya.
Karya Lain yang Perlu Diketahui
Pride and Prejudice bukan satu-satunya warisan Austen. Total ada enam novel yang ia tulis dengan penuh kasih, humor, dan wawasan mendalam tentang persoalan gender dan kelas sosial, yaitu Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Emma, Mansfield Park, Northanger Abbey, dan Persuasion, ditambah dua novel yang tidak selesai yaitu The Watsons dan Sanditon.
Dua novel terakhirnya, Northanger Abbey dan Persuasion, malah baru terbit setelah ia meninggal. Ia mulai menulis novel lain yang kelak diberi judul Sanditon, namun meninggal sebelum sempat menyelesaikannya. Ironi lain dalam hidup Austen, karya-karya yang dianggap matang justru muncul di ujung hidupnya yang singkat.
Kalau ditelusuri, hampir semua novelnya membahas tema serupa dari sudut berbeda. Ia menyoroti bagaimana perempuan pada masanya bergantung pada pernikahan demi status sosial dan keamanan ekonomi, dan lewat karyanya ia diam-diam mengkritik novel-novel bergenre sentimental yang populer di paruh akhir abad ke-18.
Warisan yang Bertahan Dua Abad
Dari naskah yang ditolak penerbit di tahun 1797 sampai menjadi salah satu novel paling banyak diadaptasi di dunia, perjalanan Pride and Prejudice membuktikan sesuatu yang sederhana. Kualitas tulisan kadang butuh waktu jauh lebih lama dari usia penulisnya untuk benar-benar dihargai.
Austen tidak pernah tahu bahwa dua abad kemudian, Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy akan terus dibicarakan, difilmkan, dan dibaca ulang oleh generasi yang bahkan tidak pernah membayangkan dunia tanpa listrik atau internet.
Barangkali itu yang membuat karyanya terasa istimewa. Ia menulis tentang manusia dan pilihan-pilihan sulit mereka, sesuatu yang ternyata tidak lekang oleh zaman meski nama pengarangnya sempat tersembunyi begitu lama.





