Resensi Novel Sunda Lembur Singkur karya Abdullah Mustappa

RediksiaMinggu, 4 Februari 2024 | 18:09 WIB
Resensi Novel Sunda Lembur Singkur karya Abdullah Mustappa
Resensi Novel Sunda Lembur Singkur karya Abdullah Mustappa

DIKSIA.COM - Bagi kamu penikmat , “Lembur Singkur” karya Abdullah Mustappa wajib banget masuk ke TBR (To Be Read) list kamu! pendek ini terbit tahun 1979, tapi kisahnya masih relevan dan mampu mengaduk-aduk emosi pembaca hingga kini. Yuk, simak lengkapnya biar kamu nggak penasaran lagi!

Novel Lembur Singkur adalah salah satu karya sastra Sunda yang ditulis oleh Abdullah Mustappa pada tahun 1979. Novel ini menceritakan kehidupan seorang ibu dan anak bungsunya yang tinggal di sebuah lembur atau kampung terpencil di kaki gunung, yang sering diganggu oleh teroris atau gorombolan yang bersekutu dengan penjajah Belanda. Novel ini menggambarkan kondisi sosial, budaya, dan masyarakat Sunda pada masa itu dengan gaya bahasa yang sederhana, lugas, dan menyentuh.

Sinopsis Novel Lembur Singkur

Novel ini diceritakan dari sudut pandang si bungsu, yang tidak disebutkan namanya, hanya menyebut dirinya sebagai kuring (aku). Dia tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lemah, sementara kedua kakaknya, Ahmad dan Hadi, mondok atau mengungsi di bawah gunung untuk menghindari teroris. Ayahnya tidak diketahui keberadaannya, dan ibunya tidak pernah memberi tahu siapa dia.

Suatu hari, ada seorang laki-laki yang datang ke rumah mereka secara diam-diam. Dia ternyata adalah ayah si bungsu, yang sudah lama menjadi anggota teroris. Dia datang untuk menemui ibunya dan memberi tahu bahwa dia akan segera mati, karena teroris sudah kalah perang dengan tentara Belanda. Dia juga memberi tahu bahwa dia adalah orang yang membunuh kepala lembur, yang merupakan kakek si bungsu. Dia meminta maaf kepada ibunya dan si bungsu, dan berpesan agar mereka tetap hidup dengan baik.

Keesokan harinya, ibu dan si bungsu pergi ke sawah untuk bekerja. Mereka membawa banyak perbekalan, karena ada pemeriksaan teroris yang akan datang. Di sawah, mereka bertemu dengan seorang gadis yang bernama Nani, yang merupakan cucu dari kepala lembur yang dibunuh oleh ayah si bungsu. Nani dan si bungsu bersahabat, dan bermain bersama di sawah.