Kenapa Remaja Sering Bingung Pilih Keputusan? Peran Orang Tua yang Tak Ternilai

RediksiaMinggu, 8 Februari 2026 | 21:29 WIB
Kenapa Remaja Sering Bingung Pilih Keputusan Peran Orang Tua yang Tak Ternilai
Kenapa Remaja Sering Bingung Pilih Keputusan Peran Orang Tua yang Tak Ternilai

Diksia.com - Kita sering melihat anak remaja bingung saat harus memilih, mulai dari hal sederhana seperti menu makan hingga keputusan besar seperti jurusan kuliah. Fenomena ini bukan sekadar kemalasan, tapi terkait perkembangan alami yang sedang dialami mereka.

Penelitian terkini menunjukkan bahwa otak remaja masih dalam tahap matang, khususnya bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas perencanaan, pengendalian impuls, dan pengambilan keputusan rasional. Bagian ini berkembang lebih lambat dibandingkan area otak yang mengatur emosi dan pencarian sensasi, sehingga remaja cenderung lebih impulsif atau justru ragu-ragu saat menghadapi pilihan.

Selain itu, fluktuasi hormon selama pubertas membuat emosi mereka labil. Satu saat semangat tinggi, tapi tiba-tiba cemas berlebih karena takut gagal atau pengaruh teman sebaya. Tekanan dari media sosial juga menambah beban, di mana mereka sering membandingkan diri dengan orang lain, sehingga keputusan terasa semakin berat.

Faktor Lain yang Membuat Anak Remaja Indecisive

Tak hanya biologis, faktor lingkungan turut berperan. Kurangnya pengalaman membuat mereka belum terlatih memproses konsekuensi jangka panjang. Misalnya, saat memilih ekstrakurikuler atau teman bergaul, mereka lebih fokus pada kepuasan instan daripada manfaat masa depan.

Perfeksionisme yang muncul di usia ini juga jadi penghambat. Mereka khawatir salah langkah akan merusak citra diri, apalagi di era digital di mana segala sesuatu mudah terekam dan dinilai orang lain. Akibatnya, proses pengambilan keputusan jadi lebih lama dan melelahkan.

Peran Orang Tua: Dari Pengarah hingga Pendamping

Di sinilah kita sebagai orang tua punya peran besar. Bukan mengambil alih keputusan mereka, tapi menjadi pendamping yang bijak. Mulailah dengan membuka komunikasi terbuka. Dengarkan cerita mereka tanpa langsung menghakimi, sehingga mereka merasa aman berbagi dilema.

Ajarkan teknik sederhana seperti mencatat pro dan kontra pilihan. Ini membantu mereka melihat situasi dari berbagai sudut, melatih prefrontal cortex yang masih berkembang. Berikan ruang untuk keputusan kecil sehari-hari, seperti memilih baju atau jadwal belajar, agar mereka belajar dari konsekuensi tanpa risiko besar.

Yang tak kalah penting, tunjukkan contoh nyata dari hidup kita. Ceritakan bagaimana kita pernah ragu tapi akhirnya memilih, beserta pelajaran yang didapat. Ini membangun kepercayaan diri mereka bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Tips Praktis untuk Membantu Anak Remaja Buat Keputusan

  • Dorong eksplorasi minat tanpa tekanan. Biarkan mereka coba berbagai aktivitas untuk menemukan passion sendiri.
  • Hindari pola asuh otoriter yang memaksa pilihan. Sebaliknya, gunakan pendekatan kolaboratif di mana opini mereka dihargai.
  • Pantau pengaruh lingkungan, termasuk teman dan media sosial, tapi dengan cara yang tidak membuat mereka merasa diawasi berlebihan.
  • Jika kesulitan berlarut-larut disertai tanda kecemasan berat, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog untuk dukungan profesional.

Dengan pendampingan yang tepat, kita bisa membantu anak remaja melewati fase ini menjadi individu yang mandiri dan percaya diri. Proses ini tidak instan, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan mereka.