Diksia.com - Di dunia website modern, kesan pertama sangat menentukan apakah pengunjung akan bertahan atau langsung pergi. Salah satu elemen yang sering digunakan untuk menciptakan kesan kuat itu adalah splash page.
Tapi, apa sebenarnya splash page itu? Mengapa banyak brand memakainya, dan bagaimana cara membuat serta mengoptimalkannya agar tidak malah merugikan pengalaman pengguna? Kita bahas secara lengkap di artikel ini.
Pengertian Splash Page
Splash page merupakan halaman pengantar atau layar pembuka yang muncul sebelum pengunjung mencapai halaman utama website, seperti homepage atau landing page.
Halaman ini biasanya berupa overlay layar penuh, pop-up besar, atau halaman sementara yang memuat pesan singkat, visual menarik, atau pilihan aksi tertentu.
Berbeda dengan landing page yang fokus pada konversi spesifik seperti pengumpulan lead atau penjualan, splash page lebih berfungsi sebagai pintu gerbang.
Tujuannya bisa bermacam-macam: memperkenalkan brand secara visual, memberikan pengumuman penting, meminta verifikasi usia, memilih bahasa, atau menampilkan promo sementara. Singkatnya, splash page bertugas membuat splash atau gebrakan awal agar pengunjung langsung terpikat.
Di tahun 2025-2026 ini, splash page masih relevan terutama untuk situs e-commerce, SaaS, atau brand yang ingin mengontrol kesan pertama, meskipun penggunaan berlebihan bisa meningkatkan bounce rate jika tidak dirancang dengan baik.
Perbedaan Splash Page dengan Landing Page dan Homepage
Agar tidak bingung, mari kita bedakan:
- Splash page: Halaman intro singkat, biasanya hanya satu aksi (klik enter, pilih opsi), muncul sekali saat pertama kali berkunjung.
- Landing page: Halaman mandiri untuk kampanye tertentu, penuh elemen persuasif seperti form, testimoni, dan CTA kuat untuk konversi.
- Homepage: Halaman utama website yang menampilkan overview seluruh isi situs.
Splash page bukan pengganti homepage, melainkan pelengkap yang muncul di depan.
Manfaat Menggunakan Splash Page
Kita bisa memanfaatkan splash page untuk beberapa keuntungan:
- Menciptakan kesan pertama yang kuat dan konsisten dengan identitas brand.
- Menyampaikan informasi krusial seperti promo terbatas, peringatan usia, atau pemilihan regional.
- Mengarahkan pengunjung ke bagian situs tertentu, misalnya kampanye musiman.
- Meningkatkan personalisasi, seperti menampilkan konten berbeda berdasarkan lokasi atau preferensi.
Namun, jika terlalu memaksa atau lambat memuat, splash page justru bisa membuat pengunjung frustrasi dan meninggalkan situs.
Cara Membuat Splash Page yang Menarik
Membuat splash page tidak perlu rumit. Berikut langkah-langkah praktis yang bisa kamu ikuti:
- Tentukan tujuan utama. Apakah untuk pengumuman, verifikasi, atau pengenalan brand? Ini akan menentukan elemen yang dibutuhkan.
- Pilih platform pembuat website. Gunakan builder seperti Wix, WordPress (dengan plugin seperti popup maker atau page builder), atau tools no-code lainnya yang mendukung overlay/full-screen page.
- Desain visual dominan. Gunakan gambar berkualitas tinggi, animasi sederhana (GIF looping atau transisi halus), dan warna brand yang konsisten. Batasi teks agar tidak lebih dari 1-2 kalimat.
- Tambahkan elemen interaktif. Sertakan tombol jelas seperti Enter Site, Pilih Bahasa, atau Verifikasi Usia. Pastikan CTA mudah diklik, terutama di perangkat mobile.
- Atur durasi atau trigger. Splash page bisa muncul sekali per sesi (gunakan cookie), atau setiap kunjungan jika untuk promo waktu terbatas.
- Tes dan publikasikan. Cek kecepatan muat, tampilan di mobile/desktop, dan pastikan tidak mengganggu aksesibilitas.
Untuk pemula, platform drag-and-drop seperti Canva (untuk desain) dikombinasikan dengan website builder sangat membantu.
Tips Optimasi Splash Page untuk SEO dan Konversi
Optimasi splash page penting agar tidak merusak performa situs secara keseluruhan. Berikut cara terbaik di era sekarang:
- Jaga kecepatan muat di bawah 3 detik. Kompres gambar, minimalkan animasi berat, dan gunakan lazy loading jika perlu.
- Hindari splash page yang memblokir konten utama terlalu lama, karena Google menganggapnya sebagai pengalaman pengguna buruk (core web vitals).
- Optimalkan untuk mobile. Lebih dari separuh trafik datang dari ponsel, jadi pastikan tombol besar dan teks mudah dibaca.
- Gunakan cookie atau session untuk menampilkan splash hanya sekali, sehingga pengunjung kembali tidak terganggu.
- Tambahkan noindex tag jika splash page tidak ingin diindeks mesin pencari, agar tidak membingungkan crawler.
- Ukur performa dengan tools analytics. Pantau bounce rate, waktu di halaman, dan tingkat konversi setelah splash. Lakukan A/B testing untuk variasi desain atau pesan.
- Fokus pada satu pesan utama. Jangan overload dengan terlalu banyak elemen; kesederhanaan sering kali menghasilkan konversi lebih tinggi.
Dengan optimasi tepat, splash page bisa meningkatkan engagement tanpa mengorbankan SEO.
Kesimpulan
Splash page tetap menjadi alat powerful untuk mengontrol kesan pertama di website kamu. Dengan memahami pengertiannya, membedakannya dari halaman lain, serta menerapkan cara membuat dan optimasi yang benar, kamu bisa memanfaatkannya untuk memperkuat brand dan meningkatkan hasil konversi.
Ingat, kunci sukses ada pada kesederhanaan, kecepatan, dan nilai tambah bagi pengunjung. Coba terapkan di situsmu sekarang, dan lihat perbedaannya!





