Diksia.com - Di tengah kemajuan teknologi dan tuntutan pasar kerja yang semakin ketat, pendidikan sering kali dipandang sebagai jalan menuju pekerjaan stabil. Namun, pendidikan sejati memiliki nilai lebih dalam.
The Virtue of Liberating Education mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. Pendidikan yang membebaskan membuka mata terhadap realitas sosial, mendorong pemikiran kritis, dan memberdayakan individu untuk mengubah dunia menjadi lebih adil.
Konsep ini bukan hal baru. Seorang pemikir pendidikan terkenal dari Brasil pernah menyatakan bahwa pendidikan tradisional sering berfungsi seperti sistem perbankan: guru menyetor pengetahuan ke siswa yang dianggap kosong.
Pendekatan ini justru mempertahankan ketidakadilan karena melayani kepentingan kelompok berkuasa. Sebaliknya, pendidikan pembebasan menjadikan siswa sebagai subjek aktif yang belajar melalui dialog dan refleksi atas masalah nyata di sekitar mereka.
Apa Itu The Virtue of Liberating Education?
The Virtue of Liberating Education merujuk pada kebajikan atau nilai luhur dari pendidikan yang membebaskan. Kebajikan ini terletak pada kemampuannya memerdekakan jiwa dari keterbatasan pandangan, rasa takut, dan kebosanan. Pendidikan semacam ini membebaskan dari pemikiran sempit serta mempersiapkan untuk rasa ingin tahu, kreativitas, dan kebersamaan.
Pendidikan pembebasan tidak hanya membebaskan dari penindasan eksternal seperti kemiskinan atau diskriminasi, tetapi juga dari penindasan internal seperti ketidakpercayaan diri. Tujuannya adalah menciptakan manusia yang sadar akan potensinya sendiri dan mampu berkontribusi bagi perubahan sosial.
Di era ketika kecerdasan buatan mendominasi, pendidikan yang membebaskan justru menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang tak tergantikan: empati, dialog mendalam, dan cinta profan terhadap sesama.
Dialog dan Cinta sebagai Fondasi Utama
Salah satu elemen kunci dalam pendidikan pembebasan adalah dialog. Dialog bukan sekadar percakapan, melainkan proses saling belajar di mana guru dan siswa sama-sama belajar. Dialog ini hanya mungkin terjadi jika disertai dengan cinta mendalam—cinta yang rendah hati, penuh hormat, dan berorientasi pada pembebasan bersama.
Cinta dalam konteks ini bukan perasaan romantis, melainkan komitmen untuk memberdayakan orang lain. Tanpa cinta ini, pendidikan berisiko menjadi alat kontrol.
Dengan dialog dan cinta, pendidikan menjadi praktik kebebasan yang mendorong perubahan sosial dan politik. Pendekatan ini terbukti relevan dalam berbagai bidang, termasuk literasi kesehatan dan pendidikan karakter di masyarakat modern.
Relevansi di Indonesia Saat Ini
Di Indonesia, sistem pendidikan masih sering dikritik karena cenderung menggunakan model perbankan. Siswa dijejali materi untuk ujian, tanpa cukup ruang untuk mempertanyakan realitas sosial.
Namun, ada harapan. Kurikulum merdeka belajar memberikan lebih banyak kebebasan bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan masalah nyata. Pendekatan ini selaras dengan semangat pendidikan pembebasan.
Baru-baru ini, diskusi tentang pendidikan yang membebaskan semakin hangat. Pendidikan dipandang sebagai alat memerdekakan dari kebencian, kemiskinan, dan ketidakadilan.
Melalui pemikiran kritis, siswa diajak bertindak untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Di pesantren, sekolah Islam, hingga universitas, konsep ini mulai diintegrasikan untuk membentuk karakter yang humanis dan kritis.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir pendidik dan sistem yang sudah mapan. Banyak guru masih terbiasa menjadi pusat pengetahuan, bukan fasilitator dialog. Selain itu, tekanan ekonomi membuat pendidikan sering diarahkan hanya untuk keterampilan kerja, bukan pembebasan jiwa.
Meski begitu, harapan tetap ada. Semakin banyak inisiatif yang mengadopsi prinsip pendidikan pembebasan, baik melalui pembelajaran berbasis masalah maupun pendidikan nilai hidup. Ketika pendidikan benar-benar membebaskan, kita tidak hanya menciptakan individu yang sukses secara materi, tetapi juga manusia yang berintegritas, empati, dan siap memperjuangkan keadilan.
The Virtue of Liberating Education mengajak kita semua—guru, siswa, orang tua, dan masyarakat—untuk memandang pendidikan sebagai panggilan mulia. Pendidikan yang membebaskan bukan mimpi utopis, melainkan kebutuhan mendesak untuk masa depan yang lebih baik. Mari kita wujudkan bersama.





