Diksia.com - Di tengah maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan yang terus meningkat, peran guru sebagai pendidik dan teladan semakin krusial. Kamu yang seorang guru pasti paham betapa pentingnya menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi siswa.
Sayangnya, data terkini menunjukkan ratusan kasus kekerasan di satuan pendidikan setiap tahunnya, dengan relasi guru-siswa mendominasi pola pelaku-korban. Hal ini menuntut kita semua untuk lebih waspada terhadap batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.
Kekerasan Fisik dan Verbal: Larangan Utama yang Masih Sering Terjadi
Kekerasan fisik seperti memukul, menendang, mencubit, atau bahkan mencukur rambut siswa secara paksa dan tidak rapi merupakan tindakan yang dilarang keras. Begitu juga kekerasan verbal berupa bentakan, kata-kata kasar, olok-olok, atau perendahan di depan teman-teman.
Tindakan semacam ini tidak hanya melukai fisik dan psikis siswa, tapi juga bisa menimbulkan trauma jangka panjang hingga mengganggu proses belajar mereka. Hukum di Indonesia tegas melindungi anak dari segala bentuk kekerasan di lingkungan sekolah, termasuk yang dilakukan oleh pendidik.
Perundungan dan Diskriminasi: Bentuk Kekerasan yang Terselubung
Kamu tidak boleh melakukan atau membiarkan perundungan terhadap siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Demikian pula diskriminasi berdasarkan gender, agama, latar belakang sosial, atau perbedaan lainnya. Memberi perlakuan berbeda atau melecehkan siswa karena identitasnya jelas melanggar prinsip pendidikan yang inklusif dan adil.
Eksploitasi Ekonomi: Jangan Manfaatkan Posisi sebagai Guru
Salah satu pantangan klasik tapi masih relevan adalah berjualan kebutuhan siswa, seperti memaksa membeli buku, seragam, atau barang lain melalui guru.
Memberikan les privat berbayar kepada siswa sendiri atau memungut biaya tambahan yang tidak sesuai aturan juga termasuk larangan. Tindakan ini menyalahgunakan kepercayaan dan posisi otoritas guru.
Merendahkan dan Membanding-bandingkan Siswa
Jangan pernah merendahkan kemampuan siswa, membandingkannya dengan teman lain, atau mempermalukannya di depan kelas. Kata-kata seperti itu bisa menghancurkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Guru seharusnya memberikan semangat, bukan justru menjatuhkan.
Mengabaikan Hak Siswa untuk Didengar
Kamu juga tidak boleh mengabaikan pertanyaan, pendapat, atau keluhan siswa. Memaksakan satu jawaban benar tanpa ruang diskusi, atau bersikap otoriter tanpa empati, membuat siswa merasa tidak dihargai. Pendidikan yang baik justru membuka ruang dialog dan menghargai keberagaman pemikiran.
Mengapa Hal Ini Penting untuk Dihindari?
Lingkungan sekolah yang bebas kekerasan bukan hanya kewajiban hukum, tapi juga fondasi bagi tumbuh kembang anak secara optimal. Ketika guru melanggar batas, dampaknya bukan hanya pada siswa individu, melainkan seluruh komunitas pendidikan. Aturan terkini terus diperkuat untuk mencegah dan menangani kekerasan, termasuk pembentukan tim khusus di setiap satuan pendidikan.
Sebagai guru, kamu punya tanggung jawab besar untuk menjadi teladan. Hindari tindakan-tindakan di atas, dan gantikan dengan pendekatan penuh kasih sayang, keadilan, serta profesionalisme. Dengan begitu, kita bersama-sama bisa ciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. Yuk, mulai dari diri sendiri!





